Dari rusuk lukisan menikam
Dada
Dari dada lukisan menyelam
Darah
Dari darah lukisan menumpah
Makna
Dari makna lukisan percikan
Cahaya
dari cahaya lukisan terbitkan
Cinta
Dari cinta lukisan lahirkan
Aku
dari aku lukisan temukan
Kau
Kamis, 14 April 2011
Rabu, 13 April 2011
pohon namaku
Salah satu coretan dalam drawing book ku. Kegiatan iseng disela waktu luang, bikin sketsa. Hasilnya lumayan.hahahah..Namaku dan nama istri..
ayo tebak kira2 apa tu bacaannya?
Selasa, 12 April 2011
Bayiku mulai mengajari ku !!!
Pengalamanku memiliki seorang bayi, yang sekarang mulai menginjak umur satu tahun, membawaku tuk berfikir betapa lebih antusiasnya dia terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungannya. Dia ga' peduli, apakah harus jatuh, tersungkur bahkan luka untuk mendapatkan atau melihat sesuatu apa yang dia inginkan. Dia begitu menikmati warna, cahaya, gerakan dan bunyi yang ada disekelilingnya. Bahkan kalo saya liat, dia mulai berkeinginan jadi seorang Arsitektur, ketika menyusun mainan kotak kayunya, atau seorang Seniman yang mulai mencoret-coretkan spidol, crayon atau pensil kesebuah kertas yang dikasih oleh bundanya, atau seorang Komposer, ketika dia merasa nyaman, akan menyanyi-nyanyi kecil sambil berceloteh dalam pelukan bundanya. Atau bahkan seorang Komentator atau Kritikus, ketika televisi menampilkan hal2 yang menarik perhatiannya, seperti gambar kartun yang lucu atau gambar-gambar animasi.Sungguh suatu hal yang sangat luar biasa.
Ada beberapa hal yang dapat saya ambil dari pengalaman ini.
Pertama, Saya merasa malu ketika harus menyerah, ketika menghadapi masalah. Kita lihat bayi, perjuangannya untuk bisa berjalan saja, suatu usaha yang luar biasa. Dia jatuh...berdiri lagi.....jatuh lagi...berusaha merangkak kembali dan berdiri lagi dan berjalan lagi...
Kedua, Saya merasa malu ketika kerja malas-malasan, tidak bersemangat bahkan tidak kreatif. Ohhh...
Bayi, jadi cermin buat kita orang-orang dewasa untuk berbuat lebih maksimal, pantang menyerah dan lebih kreatif...
Ada beberapa hal yang dapat saya ambil dari pengalaman ini.
Pertama, Saya merasa malu ketika harus menyerah, ketika menghadapi masalah. Kita lihat bayi, perjuangannya untuk bisa berjalan saja, suatu usaha yang luar biasa. Dia jatuh...berdiri lagi.....jatuh lagi...berusaha merangkak kembali dan berdiri lagi dan berjalan lagi...
Kedua, Saya merasa malu ketika kerja malas-malasan, tidak bersemangat bahkan tidak kreatif. Ohhh...
Bayi, jadi cermin buat kita orang-orang dewasa untuk berbuat lebih maksimal, pantang menyerah dan lebih kreatif...
Senin, 11 April 2011
Saya Tunjuki Cara Menilai Karya, Gitu Aja Ga Bisa!!
Kadang kita merasa kesulitan dalam menilai karya siswa atau karya orang lain yang udah dibikinnya. Apakah itu lukisan, sketsa, disain bahkan karya 3 dimensi sekalipun. Berikut ini ada 4 cara mengevaluasi karya. Ini saya dapat dulu waktu kuliah kritik seni. Mohon maaf saya lupa sumbernya
1. Evaluasi Realisme
> Alam menjadi patokan kebenaran dan keindahan
> Dimulai dari zaman Yunani Kunoyang didukung oleh otoritas pengetahuan Aristoteles
2. Evaluasi Ekspresionisme
> Penilaiannya lebih bersifat subjektif
> Keindahan karya bukan terletak pada objek yang dilukis atau yang digambar, melainkan pada pemaknaan atau penafsiran seseorang
> Lebih mengutamakan sensibilitas seniman dari pada alam
> Bersifat ekspresi dari seniman
3. Evaluasi Formalisme
> Menekankan bahwa bentuk (form) adalah kriteria satu-satunya untuk menilai karya
> Nilai estetika sebuah karya bersifat otonom, tidak terikat dengan nilai-nilai lain seperti : agama, sosial, ekonomi dll
> Objek, tema, pesan, konsep dari karya diabaikan. Penilaian tetap fokus pada bentuk ( form )
4. Evaluasi Instrumentalis
> Seni menghamba pada nilai dan isu-isu yang lebih besar dari pada estetika dan seni
> Karya seni yang diciptakan harus menghasilkan konsekuensi tingkah laku yang baik sebab seni adalah suatu kekuatan yang mengedepankan tingkah laku etis tertinggi (plato)
Nah..Sekarang tergantung kita menilai karya itu dari aspek mana?
1. Evaluasi Realisme
> Alam menjadi patokan kebenaran dan keindahan
> Dimulai dari zaman Yunani Kunoyang didukung oleh otoritas pengetahuan Aristoteles
2. Evaluasi Ekspresionisme
> Penilaiannya lebih bersifat subjektif
> Keindahan karya bukan terletak pada objek yang dilukis atau yang digambar, melainkan pada pemaknaan atau penafsiran seseorang
> Lebih mengutamakan sensibilitas seniman dari pada alam
> Bersifat ekspresi dari seniman
3. Evaluasi Formalisme
> Menekankan bahwa bentuk (form) adalah kriteria satu-satunya untuk menilai karya
> Nilai estetika sebuah karya bersifat otonom, tidak terikat dengan nilai-nilai lain seperti : agama, sosial, ekonomi dll
> Objek, tema, pesan, konsep dari karya diabaikan. Penilaian tetap fokus pada bentuk ( form )
4. Evaluasi Instrumentalis
> Seni menghamba pada nilai dan isu-isu yang lebih besar dari pada estetika dan seni
> Karya seni yang diciptakan harus menghasilkan konsekuensi tingkah laku yang baik sebab seni adalah suatu kekuatan yang mengedepankan tingkah laku etis tertinggi (plato)
Nah..Sekarang tergantung kita menilai karya itu dari aspek mana?
Langganan:
Komentar (Atom)